Tausiyah Ustadz Abu Bakar Ba'asyir (5)

IBADAH MAHDLOHNYA (RITUALNYA) WAJIB BERSIH DARI BID’AH

Yang dimaksud dengan ibadah mahdloh ialah amalam –amalan yang sifatnya ritual seperti shalat, saum, dzakat, do’a, dzikir, nazar, kurban, haji dan lain-lainnya. Cara mengamalkan ibadah mahdloh harus bersih dari bid’ah, maksudnya harus secara mutlak mengikuti arahan dan tauladan yang diberikan oleh Nabi SAW.

Kewajiban kaum Muslimin dalam mengamalkan ibadah mahdloh hanya taat kepada perintah Allah dan Rasul Nya serta mengikuti tauladan yang dijelaskan di dalam Sunnah Nabi SAW, tidak boleh menambah atau mengurangi sedikitpun meskipun penambahan itu kelihatannya baik. Hal ini karena Allah SWT telah menyempurnakan Dinul Islam tidak ada yang kurang atau yang lebih.

Allah SWT berfirman:
“ ... pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat Ku dan telah Ku ridhoi Islam itu jadi agamamu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Al Maa-idah : 3)

Kita wajib berIman bahwa pada diri dan amalan Rasulullah SAW adalah merupakan tauladan yang baik termasuk tauladan yang beliau berikan dalam amalan ibadah mahdloh adalah sudah sempurna dan baik tidak perlu ditambah atau dikurangi atau dikoreksi.

Hal ini sesuai dengan keterangan Allah SWT dalam firman Nya:
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (Al Ahzaab : 21)

Dalam mengamalkan Shalat misalnya, Rasulullah SAW memerintahkan kepada Umat Islam agar meniru seratus persen seperti yang mereka lihat Rasulullah SAW mengamalkannya.

Dalam hal ini Beliau SAW bersabda:
“Shalatlah kamu sekalian sebagaimana kamu lihat caraku shalat”. (HR Al-Bukhari)

Demikian pula amalan Haji, Rasulullah SAW juga memerintahkan Umat Islam agar mencontoh manasik haji yang beliau amalkan.

Rasulullah SAW bersabda:
“Ambillah dariku manasik (tata cara amalan Haji) kamu, karena sesungguhnya saya tidak tahu barangkali saya tidak lagi dapat menunaikan Haji setelah Hajiku ini”. (HR Hakim dan Ibnu Huzaimah).

Dan Rasulullah SAW dengan tegas dan jelas memperingatkan Umat Islam agar benar-benar menjaga kebersihan ibadah mahdloh ini dan menjauhkan diri dari amalan bid’ah, yakni menambah atau mengurangi.

Hal ini diterangkan dalam riwayat dibawah ini:

“Diriwayatkan dari sahabat Jabir bin Abdullah r.a. beliau berkata: ‘Adalah Rasululah SAW bersabda dalam khutbahnya; beliau memuji Allah dan menyanjung Nya karena Dia memang patut dipuji. Kemudian Baginda bersabda; ‘Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah tiada siapapun yang sanggup menyesatkannya dan barang siapa yang disesatkan tiada siapapun yang sanggup memberi petunjuk’. Bahwa sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah kitab Allah dan sebaik-baik pimpinan adalah pimpinan Muhammad dan sejelek-jelek perkara adalah perkara-perkara yang baru (yang dibuat tanpa ada contoh dari amalan Nabi atau tanpa ada perintah dari beliau). Dan setiap perkara baru itu adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah itu adalah kesesatan dan setiap kesesatan itu di neraka”. (HR. Hakim dan Ibnu Huzaimah)

Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Siapa yang membuat amalan baru dalam urusan kami (Syariat Islam) ini yang bukan dari Nya, maka ia tertolak. (HR. Bukhari).

Dan dalam riwayat Muslim disebutkan: “Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintah kami padanya, maka ia tertolak”.

Dalam khutbah pada masa Haji wada’ (Haji perpisahan) Baginda SAW memperingatkan Umat Islam agar berhati-hati terhadap godaan Syeitan yang mendorong mereka mengamalkan bid’ah yang dianggap kecil, dan Baginda SAW memerintahkan agar berpegang teguh kepada Al Quran dan Sunnah Nabi SAW yang dijamin pasti menyelamatkan dari kesesatan. Ibnu Abbas r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW berkhutbah dihadapan manusia pada masa Haji wada’ maka Baginda SAW  bersabda:

“Sesungguhnya Syeitan telah berputus asa (menggoda kamu) untuk agar ia disembah di negerimu ini, tetapi dia ridho apabila (bisikannya) ditaati selain itu yakni tentang amalan-amalan yang kamu anggap remeh / kecil maka waspadalah dan berhati-hatilah. Sesunguhnya saya telah meninggalkan sesuatu padamu yang apabila kamu berpegang teguh padanya, kamu tidak akan sesat selamanya, yaitu kitab Allah dan Sunnah Nabi Nya”. (HR Hakim)

Dalam Al-Qur’anul Karim, Allah SWT memerintahkan agar Umat Islam mengamalkan apa saja yang diperintah oleh Rasulullah SAW dan meninggalkan apa saja yang dilarang, baik dalam perkara Muamalah atau dalam perkara ibadah Mahdloh.

Hal ini diterangkan oleh Allah SWT dalam firman Nya:
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah dan bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah sangat keras hukumannya”. (Al Hasyr : 7)

Karena kerasnya peringatan dari Baginda Rasulullah SAW mengenai bahaya bid’ah dalam pengamalan ibadah mahdloh ini, maka para ulama Salaf menetapkan suatu kaidah yang disimpulkan dari Al Quran dan Hadist Sahih, agar orang Islam tidak mudah terjerumus kedalam perbuatan bid’ah dan benar-benar memahami mana amalan ibadah mahdloh dan mana amalan muamalah yang diperbolehkan dan mana yang dilarang.

Kaidah itu adalah sebagai berikut:

“Asal hukum dalam urusan ibadah itu menunggu perintah dan mengikuti”.

Maksudnya, dilarang melakukan apa saja amalan ibadah mahdloh kecuali setelah adanya perintah dari Allah dan Rasul Nya atau ada contoh dari amalan Rasulullah SAW untuk diikuti.

Kaidah yang lain berbunyi:

“Asal hukum dalam pelaksanaan ibadah (ibadah mahdloh) ialah batal ( tidak boleh diamalkan) sehingga ada dalil yang memerintahkan untuk itu”.

Maksudnya segala macam amalan ibadah mahloh yang dilaksanakan tanpa adanya dalil yang memerintahkan dari Allah dan Rasul Nya atau adanya dalil yang menunjukkan adanya contoh dari amalan Nabi SAW adalah batal (tidak sah).

Kedua kaidah tersebut diatas dirumuskan dari firman Allah SWT:

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesunguhnya orang-orang yang dholim itu akan memperoleh azab yang amat pedih”(As Syuraa : 21)

Keterangan:

Dalam ayat tersebut Allah SWT mencela orang yang membuat-buat Syariat, baik Syariat untuk amal-amal ibadah mahdloh yang tidak ada perintahnya dari Allah maupun Rasul Nya.

Disamping itu kaidah itu dirumuskan dari sabda Rasulullah SAW:

“Maka bersabdalah Rasulullah SAW: ‘Apabila sesuatu itu dari urusan duniamu maka kamu lebih tahu keadaannya, sedangkan apabila dari urusan Dien mu maka kembalinya harus kepadaku”. (HR Ahmad)

Keterangan:

Dalam hadist ini, Nabi SAW menerangkan bahwa urusan Syariat Islam termasuk Syariat cara-cara mengamalkan ibadah mahdloh harus dikembalikan kepada Nabi SAW, yakni harus mengikuti perintah dan tauladannya, kita tidak boleh mengoreksi lalu mengadakan perubahan-perubahan. Adapun dalam urusan dunia (teknologi) kita boleh berfikir mengejar kemajuan dan kecanggihan meskipun harus belajar kepada orang Kafir.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tausiyah Ustadz Abu Bakar Ba'asyir (5)"

Posting Komentar