Tausiyah Ustadz Abu Bakar Ba'asyir (11)

DINUL ISLAM HARUS DIAMALKAN SECARA KAFFAH

Disamping Dinul Islam harus diamalkan secara bersih dan murni seperti yang sudah diterangkan dalam keterangan-keterangan sebelumnya, maka ia juga harus diamalkan secara Kaaffah / Syumul keseluruhan. Yang dimaksud secara Kaaffah adalah pengamalan Syariatnya wajib diusahakan untuk diamalkan secara sempurna tidak boleh ada satu Syariatpun yang sengaja ditinggalkan kecuali karena benar-benar tidak ada kemampuan. Allah SWT memerintahkan orang-orang berIman agar memasuki Dinul Islam secara Kaaffah, maksudnya agar berusaha mengamalkan semua Syariat dan hukum-hukumnya secara sempurna tidak satu Syariatpun, meskipun kecil, yang sengaja ditinggalkan / dibekukan.

Hal ini dijelaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syeitan. Sesungguhnya syeitan itu musuh yang nyata bagimu”. (Al Baqaraah : 208)

Keterangan:

Dalam ayat tersebut di atas Allah SWT menerangkan kepada orang-orang yang berIman agar mengamalkan semua Syariat dan hukum-hukum Islam, dan jangan sampai ada yang sengaja ditinggalkan meskipun hanya satu Syariat karena semata-mata pertimbangan untung rugi keduniaan.

Hukum dan Syariat Islam pasti sesuai untuk diamalkan pada setiap tempat dan zaman, ia sanggup menjawab tuntutan perkembangan zaman, dan sanggup memenuhi tuntutan fitrah murni manusia dan sanggup memenuhi keperluan kehidupan manusia khususnya di dunia ini, dan sanggup mengatasi dan menyelesaikan serta memberi jalan keluar setiap musqilah (problem) yang dihadapi manusia dalam kehidupannya di dunia, baik musqilah pribadi, keluarga, masyarakat, maupun problem kenegaraan. Syariat Islamlah sebenarnya yang selalu didambakan dan dicari-cari oleh fitrah murni manusia untuk mengatasi musqilah kehidupannya dimana saja dan kapan saja. Tetapi karena godaan Syeitan / Iblis manusia banyak yang diselewengkan dari tuntutan fitrah murninya menuju tuntutan hawa nafsunya.

Hal ini diterangkan oleh Allah SWT dalam Al Quran dalam firman-Nya:

“Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-bnar akan menghalangi mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)”.

 “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir sesungguhnya barang siapa diantara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka jahanam dengan kamu semuanya”. (Al A’raaf : 16, 17 dan 18)

Dan firman-Nya lagi:

“Iblis menjawab; ‘Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hambaMu yang mukhlas diantara mereka” (Shaad : 82 - 83)

Keterangan:

Yang dimaksud “hamba-hamba yang mukhlas” dalam surat Shaad ayat 83 diatas ialah orang-orang yang telah diberi taufik untuk mentaati segala petunjuk dan perintah Allah SWT. Ayat-ayat tersebut diatas jelas menerangkan bahwa mayoritas umat manusia menyeleweng dari tuntutan hati nuraninya yang murni yakni mencari sistem hidup dengan Syariat Islam, kepada tuntutan hawa nafsunya karena tergoda oleh Iblis / Syeitan.

Disamping itu Syariat Islam adalah mengandung kebenaran murni dan tidak tercampur dengan kebathilan sedikitpun.

Hal ini diterangkan Allah SWT dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al Quran ketika Al Quran itu datang kepada mereka, mereka itu pasti akan celaka, dan sesunggunya Al Quran itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebathilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji”. (Fushshilat : 41 dan 42)

Dan, kebenaran Syariat Islam tetap terjaga hingga akhir zaman tidak seorangpun yang sanggup mengubahnya, karena Allah SWT menjaga kemurnianya sampai akhir zaman.

Hal ini diterangkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (Al Hijr : 9)

Disamping Allah SWT memerintahkan semua orang beriman agar mengamalkan semua Syariat Islam seperti yang diterangkan dalam surat Al Baqaraah ayat 208, Dia juga melarang mengikuti langkah-langkah Syeitan.

Diantara langkah-langkah Syeitan untuk menyesatkan hamba Allah SWT ialah menghalangi kaum Muslimin mengamalkan Syariat Islam secara Kaaffah dan mendorong mereka meninggalkan pengamalan Syariat Islam secara keseluruhan atau mengamalkan Syariat Islam secara sebagian-sebagian / sepotong-sepotong saja, dengan dibayangi untung rugi dunia, sebagaimana yang diterapkan oleh negara-negara umat Islam di Asia tenggara termasuk di Indonesia.

Dengan demikian orang Islam dan negara-negara umat Islam termasuk Indonesia sejak merdeka sampai hari ini yang sengaja hanya mau mengamalkan sebagian Syariat Islam dan sengaja meninggalkan sebagian lainnya sebenarnya mereka mentaati langkah-langkah Syeitan dan mendurhakai perintah Allah SWT.

Sebagaimana yang tersebut dalam surat Al Baqarah ayat 208 diatas karena orientasi hidupnya hanya mementingkan dunia dan melupakan akherat.

ANCAMAN YANG DIKENAKAN KEPADA ORANG ISLAM / NEGARA-NEGARA UMAT ISLAM YANG SENGAJA MENGAMALKAN SYARIAT SECARA SEPOTONG-SEPOTONG.
Mengamalkan Syariat Islam secara Kaaffah adalah merupakan perintah Allah SWT dan Sunnah Nabi SAW. Sebaliknya sengaja mengamalkan Syariat Islam secara sepotong-sepotong seperti yang pengamalannya dipaksakan oleh penguasa kaum Sekuler yang menguasai negara-negara umat Islam termasuk Indonesia, padahal ada kemampuan untuk mengamalkan secara Kaaffah, adalah dorongan Syeitan dan merupakan perbuatan durhaka terhadap perintah Allah SWT.

Maka Allah SWT mengingatkan dengan peringatan yang keras kepada mereka yang sengaja mengamalkan Syariat Islam sepotong-sepotong.

Mereka oleh Allah SWT dikatakan kaum yang mengImani sebagian Alkitab dan mengkafiri sebagian lainnya, amalan semacam ini diancam dengan balasan hidup hina dan nista di dunia dan azab pedih di akherat, karena pada hakekatnya yang bersangkutan telah murtad.

Hal ini diterangkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

“Kemudian kamu (bani israil) membunuh dirimu (suadaramu sebangsa) mengusir segolongan dari pada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu-membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu juga terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebagian dari alkitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat”. (Al Baqarah : 85)

Keterangan:


Sebenarnya ayat tersebut diatas menerangkan tabiat orang Yahudi yang suka melanggar Syariat Allah SWT karena kepentingan duniawi.

Sebagaimana keterangan Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 84:

“Dan ingatlah ketika Kami mengambil janji dari kamu yaitu: kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang) dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar akan memenuhi sedang kamu mempersaksikannya”. (Al Baqarah : 84)

Dalam ayat tersebut diatas, Allah SWT menerangkan bahwa Bani Israil telah berikrar sanggup memegang teguh janji mereka kepada Allah SWT yang isinya; bahwa mereka tidak akan saling bunuh-membunuh dan mengusir bangsa sendiri dari kampung halaman. Janji ini adalah merupakan Syariat Allah yang termaktub dalam kitab Taurat yang mereka akui kebenarannya dan berikrar menepatinya.

Tetapi dalam kenyataannya, mereka selalu melanggar sebagian janji-janji itu karena perhitungan kepentingan duniawi. Hal ini terjadi ketika mereka tinggal di Madinah, dimana tinggal kaum Yahudi Bani Quraidah dan Bani Nadzir yang bertetangga dengan bangsa Arab dari Khabilah Aus dan Khadzrat. Di dalam kehidupan sehari-hari antara kedua Khabilah Arab itu selalu terjadi peperangan. Kaum Yahudi mengadakan persekutuan dengan para Khabilah itu. Bani Nadzir bersekutu dengan Khabilah Khadzrat dan Bani Quraidah bersekutu dengan Khabilah Aus, apabila terjadi peperangan antara kedua Khabilah Arab itu, masing-masing puak Yahudi membela sekutunya dari Khabilah Arab itu. Ini berarti juga terjadi peperangan atau saling bunuh membunuh antara puak Yahudi itu sendiri.

Perbuatan ini jelas melanggar janji yang telah mereka ikrarkan kepada Allah SWT dalam kitab Taurat, dan ini berarti melanggar / meninggalkan sebagian Syariat Allah SWT.

Apabila peperangan selesai, masing-masing puak Yahudi menebus bangsanya yang tertawan, perbuatan tersebut berarti menepati Syariat Allah. Praktek semacam inilah yang Allah SWT nilai sebagai perbuatan mengImani sebagian Alkitab dan mengkafiri sebagian yang lain.

Meskipun ayat tersebut diatas menceritakan keadaan Bani Israil yang suka melanggar Syariat karena kepentingan duniawi, tetapi maksud diturunkannya di dalam Al Quran adalah untuk memberi pelajaran kepada umat Muhammad SAW (umat Islam) dan memberi peringatan kepada mereka supaya jangan meniru tingkah laku orang Yahudi dalam mengamalkan Syariat Allah SWT. Dalam ayat tersebut, Allah SWT memberi ancaman kepada orang-orang Yahudi yang mengamalkan Syariat Allah secara sepotong-sepotong ini, bahwa mereka akan ditimpa kehinaan hidup di dunia dan di akherat mereka akan di adzab dengan siksa yang pedih.

Demikian pula umat Islam apabila dengan sengaja ingin mengambil dan mengamalkan hukum / Syariat Islam secara sepotong-sepotong saja, yakni sebagian diamalkan dan sebagain lainnya sengaja ditinggalkan, padahal ada kemampuan untuk mengamalkannya, maka ancaman Allah SWT yang tersebut diatas juga akan menimpa mereka (umat Islam). Yakni mereka akan ditimpa kehinaan hidup di dunia yang wujudnya perpecahan, ketakutan, kekacauan, kemsikinan, ditindas musuh, keguncangan dan lain-lain lagi. Ancaman Allah ini suah mulai kita rasakan terutama di Indonesia. Sedang di akherat nanti, diancam dengan azab yang pedih, na’udzu billah minzalik.
 
Mengapa Allah SWT mengancam begitu keras, padahal kenyataannya mereka masih mau mengamalkan Syariat Nya meskipun hanya sebagian saja?

Jelas hal ini berati karena mereka enggan ta’at kepada Allah SWT secara mutlak karena kecintaannya kepada kehidupan dunia dan melupakan kehidupan akherat sehingga ketaatannya dibagi antara taat kepada Allah SWT dan taat kepada langkah-langkah Syeitan, jelas perbuatan ini merupakan kemurtadan. Allah SWT menerangkan bahwa sebab ketaatan kepada Allah yang setengah-setengah ini adalah karena pengaruh bisikan Syeitan sehingga orientasi hidupnya kepada dunia dan meninggalkan akherat.

Hal ini diterangkan dalam firman-Nya:

“Mereka itulah (yakni orang-orang yang mengamalkan sebagain kitab dan meninggalkan sebagian lainnya) adalah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan kehidupan akherat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong” (Al Baqarah : 86).

Dalam ayat tersebut diatas Allah SWT menerangkan bahwa mereka yang hanya bersedia mengamalkan Syariat Allah secara sepotong-sepotong tujuannya adalah semata-mata untuk kepentingan dunianya dengan melupakan akheratnya. Hal ini oleh Allah SWT disifati sebagai: membeli kehidupan dunia dengan akherat. Jadi amal mereka jelas tidak ikhlas semata-mata mencari ridho Allah SWT, semata-mata mentaati Allah tetapi karena mentaati seruan Syeitan karena mencari keuntungan dunia (kepentingan politik, kedudukan, harta dan lain-lain kepentingan dunia). Akherat sebagai kampung halaman mereka yang sebenarnya, mereka jual untuk membeli dunia yang pasti akan mereka tinggalkan sehingga murtad, maka pantaslah dihinakan hidup mereka dunia dan disiksa di akherat.

Adapun orang beriman yang benar-benar Imannya murni pasti lebih mementingkan akherat dari pada dunia, mereka jual dunianya untuk membeli akherat dengan berusaha melaksanakan perintah Allah secara sempurna, tidak segan-segan mereka korbankan dunia bahkan kalau perlu nyawa demi menempuh kesuksesan akherat.

Hal ini dikarenakan orang beriman benar-benar memahami bahwa akherat itulah kampung halaman yang tidak akan mereka tinggalkan dan mereka tinggal di dalamnya untuk selama-lamanya, sedang dunia hanya sebagai kampung usaha dan bekerja untuk mencapai kesuksesan akherat dan pasti kehidupan dunia akan mereka tinggalkan. Mereka beriman dan membenarkan firman Allah SWT sebagai yang termakhtub di dalam ayat berikut:

“Hai kaumKu, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan sementara dan sesungguhnya akherat itulah negeri yang kekal”. (Al Mu’min : 39)

Maka orang beriman yang benar-benar murni Imannya pasti berusaha keras dan berjuang untuk dapat mengamalkan Syariat Islam secara Khaffah, mentaati perintah Allah dan Rasul Nya secara keseluruhan dan berusaha keras menjauhi langkah-langkah Syeitan seperti yang tersebut dalam ayat Al Quran yang telah dijelaskan tadi. Meskipun usaha dan perjuangan untuk mengamalkan hal ini harus meminta pengorbanan kepentingan dunianya, bahkan meskipun harus meminta pengorbanan nyawa. Demikianlah seharusnya sifat (karakterisitk) orang berIman yang murni Imannya. Maka bila dipanggil untuk melaksanakaan hukum Allah tiada lagi jawabannya kecuali menjawab: “Kami dengar dan kami taati”, tidak membantah sedikitpun.

Hal ini diterangkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul Nya agar Rasul mengadili diantara mereka ialah ucapan: “kami mendengar dan kami patuh” dan mereka itulah orang-orang yang beruntung” (An Nuur : 51)

Dan tidak pula mengajukan tawaran mencari pilihan lain, dia puas dan percaya penuh menerima dengan lapang dada semua ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya. Allah SWT berfirman menerangkan persoalan ini:

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula perempuan yang mukmin apabila Allah dan Rasul Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (Al Ahzaab : 36)

Dalam keterangan yang lalu telah diterangkan bahwa yang mendorong orang yang mengaku beriman tetapi hanya bersedia mengamalkan Syariat Allah SWT secara sepotong-sepotong saja adalah karena mengikuti langkah-langkah Syeitan sehingga mementingkan kehidupan duniawi dan melupakan kehidupan akherat, pandangan hidup semacam ini sebenarnya bukan pandangan hidup orang beriman tetapi ia merupakan pandangan hidup orang Kafir.

Hal ini diterangkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

“....... dan celakalah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih. Yaitu orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari pada kehidupan akherat dan menghalang-halangi dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh”. (Ibraahiim : 2 dan 3)

Keterangan:

Ayat-ayat diatas menerangkan bahwa watak dan pandangan hidup orang Kafir adalah lebih mementingkan kehidupan duniawi dari pada kehidupan akherat kelak. Bagi orang Kafir, dunia adalah Surga maka hidup di dunia harus dipuaskan untuk makan dan bersenang-senang memenuhi kehendak hawa nafsu dengan cara berlomba-lomba membina kehidupan mewah dan berbuat maksiat untuk mencari kenikmatan demi memuaskan hawa nafsu.

Hal ini diterangkan oleh Allah SWT dalam fiman-Nya:

“ ... dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang di dunia dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka” (Muhammad : 12)

Dan firman-Nya lagi:

“Sesungguhnya mereka (orang-orang kafir) sebelum itu hidup bermewah-mewah dan mereka terus menerus mengerjakan dosa yang besar”. (Al Waaqi’ah : 45, 46)

Oleh karena itu amalan-amalannya selalu berusaha menghalangi tegaknya Dinullah Islam, yakni menghalangi orang yang ingin memahami Dinul Islam secara benar dan menghalangi orang yang berjuang menegakkan Dinul Islam dan orang yang ingin melaksanakan Syariat Islam terutama secara Khaffah. Disamping itu orang Kafir juga berusaha agar Dinul Islam yang lurus itu menjadi bengkok yakni ayat-ayat Allah SWT ditafsirkan menurut kemauan hawa nafsu dan pandangan politik serta kepentingan mereka dan berusaha keras menolak sekeras-kerasnya bimbingan Sunnah para Rasul Allah SWT, karena semua ini akan menghalangi mereka menikmati kemewahan hidup, menikmati perbuatan maksiat dan menikmati kemauan hawa nafsu.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tausiyah Ustadz Abu Bakar Ba'asyir (11)"

Posting Komentar